slnet

PEMIKIRAN VILFREDO PARETO
Masyarakat adalah himpunan individu-individu, yang masing-masing secara egoistis mengejar kepentingan mereka sendiri. Kesimpulan ini diambil berdasarkan pengalaman empiris. Karena pengalaman empiris merupakan satu-satunya sumber untuk pengetahuan ilmiah yang sah. Kami menggunakan pandangan Thomas Hobbes (1588-1679) dalam memaparkan deskripsi kegiatan tentang masyarakat tersebut diatas, yang telah dia tulis dalam bukunya Leviathan (1651). Dari pengertian diatas tersebut dapat diartikan bahwa masyarakat tidak dilihat sebagai kesatuan organis, melainkan sebagai kejamakan, yang terdiri dari banyak individu yang berkemauan yang mampu memilih antara hidup bersama atau hidup sendirian. Jadi realitasnya masyarakat itu ada karena individu itu ada. Dapat diartikan bahwa individulah yang menentukan masyarakat. Jika individu tidak ada maka masyarakatpun tidak ada. Jadi adanya individu tidak tergantung pada adanya masyarakat.
Menurut Vilfredo Pareto (1848-1923) sosiologi harus bersifat logis dan eksperimental. Dia mencita-citakan sosiologi yang didasarkan atas kriteria matematika rasional, yang selalu sah dan tak berubah sehingga harus dibenarkan oleh setiap orang yang berakal-budi sehat dan yang berlandasan pada realitas yang merupakan obyek observasi inderawi. Tiap-tiap konsep, proposisi, dan teori harus berpangkal pada fakta yang ditinjau atau mungkin dapat ditinjau. Menurut penjelasan tersebut, dapat dikatakan bahwa Pareto mewarisi tradisi positivisme, dimana sosioogi harus masuk dalam disiplin empirisme lewat metode logika eksperimental dengan penyelidikan yang didasarkan pada pengalaman dan pengamatan.
Vilfredo Pareto juga menekankan bahwa hidup bermasyarakat terdiri dari apa yang dilakukan oleh angota-anggota individual. Menurutnya sebagian kelakuan manusia bersifat mekanis atau otomatis. Perilaku tersebut dibedakan antara perbuatan logis dan nonlogis. Yang dimaksud logis jikalau direncanakan oleh akal-budi dengan berpedoman pada tujuan yang mau dicapai, dan menurut kenyataan mencapai tujuan itu. Misalnya seorang anak pergi ke tempat makan (direncanakan oleh akal-budinya) untuk mengisi perutnya yang kosong (tujuannya), lalu dia merasa kenyang/ tidak lagi lapar karena dia telah makan, melakukan perbuatan yang logis. Sedangkan perilaku yang tidak berpedoman secara rasional pada tujuan, atau tidak mencapai tujuannya, disebut nonlogis.
Vilfredo Pareto juga menawarkan model masyarakat keseimbangan (homeostatika). Dimana masyarakat yang ditegakkan oleh individu-individu senantiasa mengarah kepada keseimbangan, yaitu pemeliharaan keseimbangan atau pemulihan keseimbangan setelah terjadi pergolakan. Individu-individu saling mempengaruhi, agar suatu keseimbangan tercapai. Hal ini sama kaitannya dengan masyarakat tidak berevolusi dan tidak maju. Oleh karena individu mengadakan relasi lahiriah, dan mereka sendiri tidak berubah, maka masyarakatpun tidak berubah. Seperti efisiensi kerja dan pengorganisasian mungkin di tingkatkan, tetapi itu hanya penyusunan lain dari unsur-unsur yang selalu sudah ada. Pandangan ini disebut the seesaw theory of history. Artinya, masyarakat adalah bagaikan ungkat-ungkit (seesaw), yang selalu mencari keseimbangan antara kedua ujungnya. Hanya keseimbangan yang dicari, bukan perubahan. Memang kadang-kadang terjadi penyusunan kembali atau reshuffle dalam masyarakat, hal mana memberi kesan seolah-olah ada perkembangan dan kemajuan. Apa yang nampaknya perubahan, adalah perpindahan posisi saja sama seperti pada ungkat-ungkit. Ungkat-ungkit sendiri tidak berubah dalam gerak mencari keseimbangan baru.
Dalam memperoleh keseimbangan yang mereka harapkan yang dilihat melaui konteks perilaku indvidu, bahwa setiap individu mempunyai perasaan-perasaan otomatis yang aktif menentang setiap hal yang mengancam atau mengganggu kestabilan. Jadi, keseimbangan adalah akibat proses mekanis. Jika perasaan otomatis tersebut tidak ada, tiap usaha merombak atau mengubah sistem sosial, tidak menghadapi perlawanan yang berarti. Masyarakat akan goyah terus menerus, tidak akan memberi kepastian, dan menghancurkan diri sendiri. Akibat adanya ”stabilizing forces”, yaitu perasaan-perasaan tadi, suatu bentuk atau konfigurasi masyarakat dipertahankan dan pembanggunannya dimungkinkan. Itulah sebabnya, bahwa revolusi dan peperangan pada umumnya bersifat sementara saja. Warisan generasi-generasi pendahulu berupa struktur-struktur dasar masyarakat tidak dilepaskan dengan mudah. Dijaga dan dipelihara, sehingga penggantiannya selalu sukar dan memakan waktu lama. Pada dasarnya, masyarakat itu bersifat konservatif.
Kecenderungan ke arah kestabilan dan keseimbangan tidak ada hubungannya dengan kesadaran dan kebebasan manusia. Manusia tidak bebas. Ia dikodratkan untuk menegakkan keadaan seimbang itu. Kalau terjadi pergolakan, itu hanya untuk sementara dan merupakan masa peralihan, dimana masyarakat beralih dari keadaan seimbang yang satu kepada keadaan seimbang yang lain. Ini disebut dinamika keseimbangan. Dari penjelasan tersebut, masyarakat alami adalah masyarakat yang berkeseimbangan dan dinamis.
Selain pandangan masyarakat yang individualistis, masyarakatpun dipandang sebagai atomistis. Dengan maksud bahwa individu diibaratkan sebagai ”atom” yang sudah lengkap dengan dirinya, berkemauan sendiri dan mampu menggabungkan diri sesukanya dengan atom-atom lain sehingga membentuk molekul. Seperti halnya orang yang bergabung entah menjadi masyarakat agraris, entah menjadi masyarakat industri, entah menjadi apa. Karena itu hubungan ini bersifat lahiriah dan tidak ada kaitan sosial batiniah yang mempersatukan mereka menjadi masyarakat. Mereka bersatu dengan orang lain hanya menurut struktur-struktur lahiriah.
Selain itu, masyarakat dibayangkan sebagai mekanisme, mesin atau aparat raksasa, yang digerakkan oleh ”roda pemerintahan”. Mesin terdiri dari banyak suku cadang yang dari diri sendiri tidak pernah membentuk suatu kesatuan. Pandangan ini diperkuat oleh Henry Charles Carey (1793-1879) yang mengatakan : ”semakin banyak orang berkumpul di satu tempat, semakin besar daya penariknya.” Ini juga disebut dengan istilah ”hukum gaya berat sosial.” Hukum ini terbukti dengan menunjuk pada kota-kota besar yang menarik bagaikan magnit. Proses urbanisasi adalah efek magnetisme kota.
Lahirnya industrialisasi di Utara, revolusi transportasi dan revolusi pasar dalam paruh pertama abad kesembilan belas membawa banyak perubahan sosial dalam kehidupan masyarakat Amerika pada waktu itu. Selain ketiga fenomena tersebut di atas, pergerakan ke wilayah Barat (Westward movement) juga merupakan sebuah fenomena yang turut mengubah kondisi kehidupan sosial. Industrialisasi di Utara mulai mengubah pola kehidupan masyarakat di kota-kota industri dari agraris menjadi industri. Terlepas dari faktor-faktor positif yang disebabkan oleh perubahan sosial ini, seperti pertumbuhan ekonomi yang semakin pesat, berbagai persoalan sosial muncul sebagai dampaknya. Ideologi individualisme diterapkan secara kasar (rugged) oleh para industrialis menimbulkan praktek “perbudakan” terhadap para buruh pabrik.
Demi efisiensi dan peningkatan keuntungan para industrialis bekerja sama dengan pemerintah untuk menetapkan jam kerja hingga dua belas jam perhari. Upah buruh sangat rendah sehingga tidak mencukupi kebutuhan hidup sehari-hari. Kaum buruh secara hukum dilarang melakukan pemogokan. Tempat kerja jauh dari memadai sehingga tidak menjamin kesehatan bagi para buruh. Singkatnya, industrialisasi menciptakan kemakmuran bagi para industrialis dan, sebaliknya, membawa petaka bagi para buruh. Kebijakan pemerintah Federal dalam menjual tanah di wilayah Barat dengan harga murah serta peluang kerja yang diciptakan oleh munculnya industri-industri di Utara mengundang banyak orang Eropa berimigrasi ke Amerika. Persaingan dalam lapangan kerjapun terjadi antara orang-orang Amerika dan kaum imigran asing. Persaingan ini akhirnya menimbulkan berbagai bentrokan fisik dan prasangka buruk. Ketidakteraturan sosialpun muncul. Kehidupan para penghuni wilayah garis depan di Barat sangat diwarnai oleh semangat yang agresif, ekspansif, bebas, mandiri, kreatif, dan inovatif.
Kesemuanya ini tidak akan bermasalah kalau dalam Batas wajar. Namun demikian, pergerakan ke arah Barat melahirkan berbagai masalah sosial. Kehidupan mereka cenderung mementingkan diri sendiri, tidak mentaati aturan-aturan atau hukum yang berlaku. Banyak dari mereka terlibat dalam tindakan-tindakan kekerasan fisik, minum mabuk, hiburan-hiburan yang tidak sehat seperti pelacuran, dan yang sejenisnya. Semua gejolak sosial yang terjadi di kota-kota industri di Utara dan di kawasan garis depan niscaya menimbulkan ketidakteraturan sosial dalam masyarakat. Semua masalah sosial ini dapat direduksi menjadi satu persoalan dasar, yaitu degradasi kehidupan moral.
Hal ini terjadi karena konsep individualisme yang diterapkan pada waktu itu rugged; setiap individu mementingkan dirinya dan mengabaikan kepentingan individu-individu yang lain. Sebagai respon terhadap gejolak-gejolak sosial ini, Ralph Waldo Emerson meramu sebuah konsep individualisme dengan mengacu pada doktrin Transendentalisme. Konsep individualisme ini merupakan respon Emerson terhadap gejolak-gejolak sosial yang terjadi pada waktu itu, khususnya di era 1820an-1840an. Dalam konsep individualisme Emerson setiap individu tidak hanya mementingkan dirinya tapi juga memperhatikan kepentingan individu-individu lainnya. Jelas bahwa konsep individualisme Emerson berbeda dengan konsep individualisme yang diterapkan di era tersebut. Tesis ini ditulis berdasarkan penelitian dari sumber kepustakaan dan menggunakan pendekatan kualitatif dan antar bidang. Selain itu, kajian dalam beberapa bidang, seperti sosiologis, historis, dan filosofis dirangkaikan untuk menciptakan suatu pemahaman yang koheren dan holistik.
Sebagai makhluk biologi, manusia lahir ke permukaan bumi sebagai suatu individu. Sebagai suatu individu, manusia merupakan suatu kesatuan system rohani dengan jasmaninya. Dalam diri manusia sebagai suatu individu, terdapat potensi-potensi kejiwaan yang dapat dikembangkan. Sedangkan untuk perkembangan potensi-potensi tadi secara wajar, diperlukan pertumbuhan jasmani yang sesuai dan wajar pula. Untuk keperluan perkembangan dan pertumbuhan tadi, manusia tidak dapat melepaskan diri dari lingkungan yang ada disekitarnya, manusia tidak dapat melepaskan diri dari kondisi fisik, kondisi social dan kondisi budaya disekitarnya.
Manusia merupakan perpaduan antara aspek individu sebagai perwujudan dirinya sendiri dan merupakan makhluk social sebagai perwujudan anggota kelompok atau anggota masyarakat. Tinjauan dan pengkajian kehidupan manusia secara wajar, harus dihargai sebagai suatu individu dan sebagai anggota kelompok.
Perkembangan individu menjadi seorang pribadi, tidak hanya didukung dan dihambat oleh dirinya sendiri, melainkan juga didukung dan dihambat oleh kelompok disekitarnya. Kondisi fisik disekitarnya juga besar pengaruhnya terhadap perkembangan pribadi seseorang. Kelengkapan dan keserasian anggota tubuh, ketajaman pancaindera, susunan jaringan urat syaraf, dan proses kerja hayat lainnya, besar pengaruhnya terhadap pengembangan potensi-potensi seorang individu. Daya pikir, reaksi emosional, kemauan, kecerdasan, dan ketajaman ingatannya, sangat dipengaruhi oleh keadaan fisik-biologinya. Faktor ini merupakan dasar perbedaan antara suatu individu dengan individu lainnya.
Suatu individu biasanya mengalami proses “individualisasi” yaitu merupakan proses social yang cenderung mengakibatkan individu menjadi mandiri dan tidak tergantung pada kelompoknya, sehingga mampu menciptakan kesadaran diri pribadi. Dua konsepsi yang keliru mengenai individualisasi, yang pertama adalah bahwa individualisasi merupakan suatu proses yang berlangsung semata-mata oleh diri pribadi . Hal ini didasarkan pada asumsi bahwa  seseorang melepaskan dirinya secara sempurna dari pengaruh keompoknya dengan cara menerapkan kualitas mental sendiri. Konsepsi kedua yang keliru didasarkan pada  asumsi bahwa individualisasi secara primer merupakan suatu proses mental dan spiritual yang menyebar melalui gagasan yang berlaku pada suatu waktu atau tempat tertentu.
Individualisasi dapat dilihat dari beberapa aspek, yaitu:
  1. Individualisasi sebagai proses untuk berbeda
Diferensiasi eksternal tipe-tipe dan individu-individu menyebabkan formasi kelompok baru dimana cirri-ciri baru terekspresikan. Dalam hal ini individu melepaskan diri dari pengenalan social suatu kelompok dan beralih ke kelompok lain. Kelompok itu sampai batas-batas tertentu memberikan peluang terjadinya individualitas.
  1. Individualisasi pada taraf sikap diri sendiri
Dari sudut pandang tertentu maka kepribadian yang telah mengalami individualisasi terdiri dari kesadaran akan adanya ciri tertentu dan timbulnya suatu bentuk evaluasi diri. Dengan demikian, maka organisasi hakikat diri berkembang apabila bentuk-bentuk evaluasi diri timbul. Contohnya adaalah, apabila pemujaan terhadap kepribadian yang menonjol menimbulkan suatu tipe individualisasi tertentu.
  1. Individualisasi kehendak melalui obyek-obyek
Dalam menentukan arah dan keadaan konstan perasaan terhadap orang dan obyek-obyek, sikap-sikap tradisional dan ketahanan kelompok-kelompok utama atau primer sangat menentukan. Petani dan golongan aristocrat yang menguasai tanah kebih mantap kehendaknya apabila didandingkan dengan tipe kalangan kaya di kota yang serba mobil.
  1. Individualisasi sebagai suatu jenis introversi
Dalam individualisasi dimaksudkan pendalaman kepribadian , yang lazimnya disebut introyeksi. Tahap-tahap proses itu dapat ditelusuri. Keadaan demikian terasa dalam kehidupan di kota-kota besar dimana rasa tidak bersahabat timbul sehingga menimbulkan kebingungan, dan juga apabila suatu komuniti kehilangan kekuatan ekspresifnya, missal, kalau upacara-upacara kehilangan artinya.
Seseorang dikatakan selalu mementingkan diri sendiri. Maka orang itu dipandang kurang mampu menempatkan diri dalam diri fihak lain. Orang semacam itu belum menjalani tahap pertama kesadaran sosial dimana manusia memandang hal-hal menurut hubungan sosialnya. Hal ini misalnya mungkin terjadi pada anak tunggal, oleh karena mereka tidak mengalami sosialisasi yang cukup. Sosialisasi merupakan kebalikan dari individualisasi, oleh karena proses yang menyangkut perluasan hakikat diri. Perkembangan ini mengikuti garis-garis tertentu yang merupakan akses social bagi perkembangan itu sendiri.
Keinginan-keinginan individu semuanya berhubungan dengan kesejahteraan dirinya. Dengandemikian moraliats direduksi ke perhitungan rasional individu.  Manusia baik sebagai suatu pribadi, maupun sebagai anggota masyarakat, secara positif  berkewajiban memantapkan kehidupan kelompok atau masyarakat tempat ia hidup. Ia harus berusaha menghindarkan diri dari kehidupan yang terombang-ambing tidak menentu.
Selain melihat masyarakat dari perpektif organis, masyarakat dapat dilihat pula melalui perpektif individualisme. Dalam pandangan individualisme masyarakat tidak dilihat sebagai suatu kesatuan melainkan sebagai kemajemukan (plurality), yang terdiri dari individu-individu dan hanya dalam penampakan dia terlihat sebagai kesatuan. Kesatuan masyarakat bersifat semu, artinya ia terdiri dari individu-individu yang memiliki keinginan untuk bermasyarakat ataupun hidup sendiri. Walaupun individu-individu tersebut berkeinginan bermasyarakat tetapi sebenarnya keinginan individu tersebut masih dipertahankan. Individu bukan hanya sebagai organisme yang memberikan tanggapan tetapi individu juga sebagai organisme yang bertindak.
Pandangan individualisme yang sebagian besar penganut teori konflik juga didukung oleh kaum atomistis yang mengatakan bahwa relasi antara individu dalam masyarakat bersifat lahiriah, bagaikan relasi antara atom-atom yang membentuk molekul. Sebagaimana kaum individualis, kaum atomis juga melihat masyarakat sebagai suatu kejamakan dan keanekaragaman yang menjadi ciri pokok masyarakat, bukannya sebagai satu kesatuan.
Dalam pandangan atomisme, individu ibarat atom yang sudah lengkap dalam dirinya, berkemauan sendiri dan mampu menggabungkan diri sesukanya dengan atom-atom yang lain. Panggabungan ini menurut kaum atomis terjadi hanya berdasarkan struktur-strukut lahiriah belaka.
Sedangkan menurut pandangan mekanisme, tidak ada perubahan atau evolusi dari dalam. Keteraturan dan pergolakan dalam masyarakat tidak lain merupakan hasil-hasil hukum mekanis. Kehidupan masyarakat bersifat pre established order dalam arti bahwa tertib sosial sebenarnya sudah ada yang mengatur sejak masa tak terhingga.
Menurut Pareto bahwa hidup bermasyarkat terdiri dari apa dilakukan oleh anggota-anggota individual. Perilaku mereka disebut logis apabila direncanakan oleh akal budi dengan berpedoman pada tujuan yang mau dicapai dan menurut kenyataan tujuan itu. Pareto mengatakan bahwa hampir semua kehidupan masyarakat terdiri dari perbuatan-perbuatan non logis. Dua tipe perilaku yang non logis yang paling sering menonjol, yaitu :
  1. Orang yang menyangka secara subyektif bahwa suatu langkah tertentu perlu diambil untuk mencapai suatu tujuan, padahal tidak ada hubungan obyektif antara langkah itu dengan tujuan itu.
  2. Ada perbuatan lain yang mencapai sasaran mereka sesuai dengan perhitungan dan perencanaan nasional sebelumnya, dan semestinya disebut ‘logis’. Tetapi sesudah tujuan itu, timbul suatu keadaan yang merupakan kebalikan dari apa yang diharapkan.
Sistem sosial yang ditegakan oleh individu-individu senantiasa mengarah pada keseimbangan, yaitu pemulihan atau pemeliharaan keseimbangan. Individu-individu saling mempengaruhi agar terjadi suatu keseimbangan (equilibrium). Pendapat ini diperkuat oleh Talcot parson , sistem sosial selalu mengarah pada keseimbangan dan stabilitas. Dengan kata lain keteraturan merupakan norma sistem. Unsur-unsur mekanis dalam individu yang mepengaruhi keseimbangan sosial yaitu:
  1. Residu-residu→struktur-struktur dasar manusia yang selalu sama, mantap dan tidak berubah sepanjang peredaran zaman.
  2. Derivasi-derivasi
Menurut Pareto derivasi-derivasi dengan mudah dapat diganti-ganti tetapi residu-residu yang menentukan pola perilaku manusia pada umunnya tetap sama.  3 derivasi yaitu :
Pertama, membenarkan diri yang paling mudah dan sederhana.
Kedua, membenarkan diri dengan cara menumpang pada kewibawaan orang lain atau kekuasaan Tuhan.
Ketiga, orang dengan mudah membenarkan apa yang cocok atau bersesuaian dengan perasaan, kepentingan atau keingan mereka.
  1. Kesukaan→ketertarikan terhadap sesuatu
  2. kepentingan→semua individu akan digerakan oleh apa yang menjadi kepentingan mereka.
  3. Heterogenitas sosial
Jadi, masyarakat menurut pandangan Individualisme mengatakan bahwa masyarakat sangat dipengaruhi oleh individu-individu, bagaimana cara individu tersebut mempertahankan sistem sosial dalam masyarakat. individu dipandang sangat berperan dalam masyarakat, bahkan kaum individualis beranggapan bahwa dalam masyarakat hanya ada individu. Begitu pun dengan kaum atomis yang mengatakan bahwa individu ibarat atom yang memiliki keinginan untuk menggabungkan diri dengan suatu masyarakat ataupun sendiri.
Konsep individualisme memiliki pengertian (terms) ganda. (1) sebagai doktrin yang berkaitan dengan liberalisme yang menekankan pada kemandirian (autonomy), kepentingan (importance), dan kebebasan (freedom) individu dalam hubungan dengan masyarakat dan negara. (2) individualisme juga dipahami sebagai budaya dalam masyarakat modern yang berkaitan dengan kepemilikan pribadi (private property), konsumsi, dan subjektivitas.
Gagasan individualisme merupakan suatu hubungan interconnected dengan suatu rentang (range) istilah yang mendasar dalam teori politik dan sosial. Oleh karena itu, ia perlu dibedakan dalam beberapa penekanan berikut ini:
  1. ‘the individual’ sebagai seorang agen mandiri (autonomous agent) dengan suatu identitas tersendiri;
  2. individualisme sebagai suatu ideologi sosial dan politik dengan berbagai tradisi nasional;
  3. individualitas sebagai suatu tinjauan romantik dari keunikan seseorang memperoleh pendidikan dan perkembangan; dan
  4. individuasi sebagai suatu proses dengan jalan mana orang distandardisasikan oleh suatu proses birokratis.
Posessive individualism dan laissez-faire individualism, dalam teori sosiologi, dianggap sebagai suatu pertahanan ideologis atas kepemilikan pribadi, pasar, dan kapitalisme industrial. Tradisi sosiologis menginterpretasi individualisme utamanya sebagai suatu doktrin radikal yang memiliki efek-efek merusak (corrosive effects) terhadap tatanan sosial. Hal ini berkaitan dengan ide bahwa setiap individu mempunyai pendapat-pendapat penting yang mengancam tradisi dan otoritas. Individualisme dalam konteks ini seringkali dikaitkan dengan egoisme.
Durkheim dalam Suicide (1951) mengklaim bahwa individualisme, ekspektasi-ekspektasi egoistik dari  peredaran bisnis, anomie, dan solidaritas sosial lemah yang menghasilkan angka bunuh diri yang tinggi. Individu-individu dengan hubungan sosial lemah utamanya cenderung untuk melakukan “bunuh diri egoistik”. Sebaliknya, peninggalan Weber berkait dengan “individualisme metodologis”, yakni dengan pandangan bahwa  semua konsep-konsep sosiologis merujuk atau dapat direduksi pada karakteristik individu-individu. Weber mengklaim bahwa ia berkeinginan untuk membersihkan sosiologi dari “konsepsi-konsepsi kolektif” dan mengembangkan argumen-argumen kausal berdasarkan pada tindakan-tindakan sosial para individu. Sosiologi interpretatif Weber tentang tindakan dalam Economy and Society (1978) mengembangkan tipe ideal dari kapitalisme, birokrasi, dan pasar untuk menghindari reifikasi dari konsep-konsep yang merupakan karakteristik versi positivistik dari ilmu-ilmu sosial.
Perkembangan teori sosiologi melibatkan berbagai upaya untuk memecahkan dilema      konsep-konsep institusi sosial tentang kolektif dan individual. Misalnya, Weber mengkritik (criticised) suatu konstruksi statik artifisial dan sejarah tentang individu dan masyarakat. Dalam The Society of Individuals, Norbert Elias (1991) mengecam Weber atas ketidak-mampuannya untuk mendamaikan tensi-tensi analitis antara “the individual” dan “society”. Kegagalan ini berkaitan secara sukses dengan divisi artifisial ini sebagai bagian dari suatu kelemahan umum teori sosiologi. Solusi Elias adalah untuk menganalisis dua konsep tentang individual dan masyarakat sebagai konstruk sejarah muncul dari proses sosial. Keseimbangan antara society (we) dan the individual (I) tidak diurus (is not fixed), dan karena itu apa yang disebut “process” atau “figurational sociology” didesain untuk menggali keseimbangan the we-I dalam konfigurasi-konfigurasi sosial berbeda seperti feudalisme atau masyarakat bourgeois.
Dalam The Structure of Social Action (1937), Talcott Parsons mengembangkan suatu kupasan sistematis (systematic criticism) mengenai asumsi-asumsi individualisme utilitarianisme. Argumennya mempunyai dua komponen utama. Pertama, jika para aktor ekonomi adalah rasional, selanjutnya mereka akan bertindak dalam suatu sikap self-interested untuk memaksimalkan sumberdaya mereka. Jika asumsi-asumsi ini benar, selanjutnya manusia akan menggunakan kekuatan (force) dan kecurangan (fraud) untuk mencapai tujuan (ends) individual mereka. Oleh karena itu, teori ekonomi tidak dapat menjelaskan tatanan sosial. Kedua, Parsons mengamati bahwa untuk memecahkan “the Hobbesian problem of order”, teori ekonomi telah memperkenalkan asumsi-asumsi tambahan seperti “the hidden hand of history” atau “sentiments” untuk menjelaskan bagaimana tatanan sosial muncul. Bagaimanapun, asumsi-asumsi tambahan ini tidak compatible dengan asumsi-asumsi awal tentang self-interest dan maximisation. Kupasan-kupasan Parsons adalah penting dalam perkembangan tradisi sosiologi yang menyangkal “society” hanya suatu kumpulan para aktor ekonomi yang self-interested. Society hanya dapat eksis di mana ada shared traditions, cultures, dan institutions.
Konsep aktor sosial dari Weber dan Parsons merupakan suatu konstruk analitis yang muncul dari hubungan (engagement) mereka dengan teori ekonomi. Hal itu mungkin untuk membela Weber dan Parsons terhadap Elias. Dalam tulisannya tentang sosiologi agama, Weber mengembangkan gagasan tentang “personality” dan “life orders” dalam mana suatu struktur personalitas bukanlah a given, melainkan diusahakan melalui pendidikan dan disiplin. “Personality”  seringkali berada secara berlawanan dengan the “life orders”  of the economy and the state, dan dengan pertumbuhan kapitalisme, personality diancam oleh pengaruh regulatory dari rasionalitas praktis dunia sekular. Budaya-budaya yang berbeda mempunyai tatananan kehidupan berbeda yang melahirkan personalitas-personalitas yang berbeda.

GOOD LUCK











1 Response
  1. artikel yang bermanfaat, terimakasih


Poskan Komentar