slnet
BAB I
PENDAHULUAN
  1. Latar Belakang
Konselor penanganan masalah, tanpa didukung oleh penguasaan pendekatan, strategi dan  teknik-teknik konseling yang memadai, niscaya bantuan yang diberikan kepada siswa yang bermasalah (klien) tidak akan berjalan efektif.
Pengertian pendekatan menurut istilah bahasa (Kamus Besar Bahasa Indonesia; 2002) adalah (1) proses, perbuatan, cara mendekati; (2) usaha dalam rangka aktivitas  penelitian untuk mengadakan hubungan  dengan yang diteliti,. Strategi adalah rencana yang cermat mengenai legiatan untuk mencapai sasaran khusus.  Sedangkan teknik adalah cara (kepandaian, ketrampilan dsb) membuat sesuatu atau melakukan sesuatu yang berhubungan dengan hal yang dikerjakan; atau istilah lain adalah metode/sistim untuk mengerjakan sesuatu.
Memahami tentang pengertian di atas, maka penerapan pendekatan, strategi dan teknik dalam proses bimbingan dan penyuluhan adalah proses perbuatan seseorang (konsekor) untuk berhubungan dengan seseorang (klien) yang dilakukan  secara dekat dalam rangka untuk menggali permasalahan dengan metode yang terencana secara cermat agar memperoleh hasil sesuai dengan yang diinginkan

A.  RUMUSAN MASALAH
Dari latar belakang masalah di atas, maka rumusan masalah dalam makalah ini adalah :
1.      Jelaskan Apa pendekatan Dalam Konseling ?
B.     TUJUAN
Adapun masalah yang akan pemakalah jelaskan dalam makalah ini sebagai berikut :
1.      Mengetahui Pendekatan Dalam Konseling.


D.  MANFAAT
Adapun manfaat dari penyusunan makalah ini :
A.       Bagi mahasiswa : dalam pembuatan makalah ini semoga dapat bermanfaat bagi para mahasiswa dan pemakalah.
B.   Bagi instansi: semoga makalah yang di buat dapat dijadikan sebuah referensi bacaan.
C.       Masyarakat umum : bisa dijadikan bahan bacaan serta  suatu acuan dalam mempelajari sebuah budaya dan dalam kehidupan masyarakat itu sendiri.






           









BAB II
PEMBAHASAN
PENDEKATAN DALAM KONSELING
A.     Pendekatan Konseling Non-Direktif
1.1  Prinsip-Prinsip Konseling Non-Direktif
a.       hubungan Non-Direktif
b.      ciri-ciri hubungan non-direktif
1.      hubungan non – direktif ini menempatkan klien pada kedudukan sentral, klienlah yang aktif untuk mengungkapkan dan mencari pemecahan masalah
2.      konselor berperan hanya sebagai pendorong dan pencipta situasi yang memungkinkan klien untuk bisa berkembang sendiri
c.       dasar pandangan non-direktif
 konseling non-direktif dikembangakan  oleh Carl R.Rogers guru besar dalam psikologi dan psikiatri, universitas wiscnsin, dan dipandang sebagai bapak konseling non-direktif (client-centered counseling).
a.       Dasar filsafat Rogers mengnai manusia.
Dasar filsafat Rors dimaksud adalah:
1.      Inti sifat pada dasarnya positif, sosial, menuju kemuka, dan realistik.
2.      Manusia pada dasarnya adalah kooperatif konstruktif, dan dapat dipercaya.
3.      Manusia mempunyai kemampuan dasar untuk memiliki tujuan yang benar dan membuat pemilihan yang benar, apabila di beri situasi yang bebas dari ancaman.
b.      Pokok-pokok teori Rogers
Tiga teori mengenai kepribadian yang dikemukakan oleh Rogers yang mendasari Teknik konselingnya sebagai berikut ;
1.      Organisme
2.      Medan fenomena
3.      Self
c.       Teori kepribadian Rogers
Rogers memandang manusia sebagai makhluk sosial, maju terus, rasioanl  dan realistik. Manusia bukan robot atau mesin,  bukan pula kumpulan dari reaksi-reaksi terhadap berbagai respon dan bukan objek. Manusia itu adalah subjek yang utuh, aktif dan unik.
Pendapat Rogers dirumuskan dalam 19 dalil sebagai berikut:
1.      Tiap individu ada dalam dua pengalamannya yang selalu berubah-ubah yang pusatnya adalah dia.
2.      Organisme bereaksi terhadap medan tempat dia ada menurut penghayatan mengenai medan itu.
3.      Organisme bereaksi terhadap medan fenomenal suatu kesatuan yang terorganisasi.
4.      Organisme mempunyai  satu kecenderungan dan dorongan dasar .
5.      Perilaku pada dasarnya adalah terarah kepada tujuan, yang dilakukan oleh individu untuk memuaskan kebutuhanya sebagaimana dihayati dalam dunianya.
6.      Emosi menyertai dan pada umumnya menunjang perilaku yang terarah pada tujuan itu.
7.      Sudut pandang teraik untuk memahami perilaku individu adalah kerngkah acuan yangada dalam diri indiidu yang bersangkutan.
8.      Suatu bagian dari medan penghidupan secara keseluruhan bberangsur-angsur terdirefensikan menjadi dir atau self.
9.      Sebagai hasil dari interaksi dengan lingkungan, terutama sebagai hasil dari interaksi evaluasi dengan orang-orang lain.
10.  Nilai-nilai yang terletak pada pengalaman, dan nilai-nilai yang merupakan bagian dari struktur diri.
11.  Hal-hal dalam dunia pengalaman seseorang itu ditangkap oleh orang yang bersangkutan dalam tiga cara:
·  Dilambangkan, diamati, dan diorganisasikan kedalam hubungan tertentu dengan diri.
·  Diabaikan karena tidak ada terlihat hubungannya dengan struktur diri.
·  Ditolak atau dilambangkan dengan perubahan karena hal yang dihadapi itu tidak konsisten dengan struktur diri.
12.  Kebnayakan cara berperilaku yang dijalankan oleh individu adalah perilaku yang konsisten dengan konsep tentang dirinya.
13.  Dalam beberapa hal perilaku mungkin timbul oleh pengalaman organik atau kebutuhan yang belum dilambangkan.
14.  Penyesuaian psikologis yang tidak baik terjadi bila mana organisme menolak menyadari pengalaman-pengalaman dan viresal yang penting.
15.  Penyesuaian psikologis yang terjadi apabila diri itu memungkinkan semua pengalaman diri itu atau memungkin semua pengalaman sensoris atau viresal organisme dapat diasimilasikan
16.  Setiap pengalaman yang tidak konsisten dengan organisasi atau struktur diri mungkin diamati sebagai ancaman, dan semakin banyak pengalaman yang demikian kukulah diri itu di organisasikan untuk mempertahankan diri.
17.  Pada kondisi-kondisi tertentu.
18.  Apabila individu mengamati dan menerima semua pengalamannya yang sensoris dan viresal kedalam suatu sistem yang konsisten dan integral, maka ia akan dapat lebih sederhana dan menerima orang lain.
19.  Apabila individu mengamati dan menerima lebih banyak pengalaman organisme.
d.      Karakteristik konseling Non-Direktif
Karakteristik utama dari konseling non-direktif masing-masing menekankan pada:
a.       Tanggung jawab dan kemamapuan klien dalam menghadapi kenyataan.
b.      Pengalaman-pengalaman sekarang.
c.       Konseling non-direktif tidak bersifat dogmatis
d.      Konseling non-direktif menekankan pada persepsi klien
e.       Konseling non-direktif ada pada diri klien dan tidak ditemukan oleh konselor.
e.       Fungsi konselor dalam konseling Non-Direktif
Beberapa fungsi yang perlu dipenuhi oleh seorang konselor diantaranya adalah:
a.       Menciptakan hubungan yang bersifat permisif.
b.      Mendorong pertumbuhan pribadi.
c.       Mendorong kemampuan memecahkan masalah
f.        Persyaratan sifat dan sikap seorang konselor Non-direktif:
a.       Kemampuan berempati
b.      Kemampuan menerima klien
c.       Kemampuan untuk menghargai  klien
d.      Kemampuan memperhatikan
e.       Kemampuan membina keakraban
f.        Sifat keaslian ( gunuin )
g.       Sikap terbuka
1.2  Proses konseling Non-direktif
a.        Ilustrasi kasus
b.      Tujuan konseling non-direktif
c.       Ciri-ciri konseling non-direktif
d.      Langkah-langkah konseling non-direktif
e.       Dasar pertimbangan digunakannya konseling Non-direktif
f.        Kelemahan dan kelebihan konseling non-direktif

B.      Pendekatan konseling Rasional-Emotif
Teori konseling Rasional Emotif dengan istilah lain dikenal dengan “ rasional-emotive therapy”  yang dikembangkan oleh Albert Ellis. Seorang ahli clinical psycology (psikologi klinikal). Sekitar tahun 1943, ia membuka praktik dalam bidang konseling keluarga, perkawinan, dan seks.
Atas dasra pengalaman selama praktiknya dan kemudian dihubungkan dengan teori tingkah laku belajar, maka akhirnya Albert ellis mencoba untuk mengembangkan suatu teori yang disebut “ Rational-Emotive Therapy “ dan selanjutnya populer dengan singkatan “RET”. Tujuan dari RET Albert Ellis pada intinya ialah untuk mengatasi pikiran yang tidak logis tentang diri sendiri dan lingkungannya.
        2.2 konsep dasar konseling Rasional-Emotif
a. ciri-ciri konseling Emotif
·        Dalam menelusuri masalah klien yang dibantunya, konselor berperan lebih aktif dibandingkan dengan klien.
·        Dalam proses hubungan konseling harus diciptakan dan dipelihara hubungan baik dengn klien
·        Tercipta dan terpeliharanya hubungan baik ini dipergunakan oleh konselor untuk membantu klien mengubah cara berpikir yang tidak rasional menjadi rasional
·        Dalam prosese hubungan konseling, konselor tidak terlalu banyak menelusuri kehidupan masa lampau klien.
·        Diagnosis (rumusan masalah) yang dilakukan dengan konseling rasional-emotif bertujuan untuk membuka ketidak logisan pola berpikir dari klien.
b.      Hakikat masalah yang dihadapi klien.
Hakikat masalah yang dihadapi klien dalam pendekatan konseling rasional-emotif itu muncul, disebabkan oleh ketidak logisan klien dalam berpikir.
Menurut konseling Rasional-Emotif ini, individu merasa dicela, diejek, dan tidak diacuhkan oleh individu lain, karena ia memiliki keyakinan dan berpikir bahwa individu lain itu mencela dan tidak mengacuhkan dirinya. Kondisi inilah yang disebut cara berpikir yang tidak rasional oleh konseling Rasional-Emotif.


c.       Tujuan konseling Rasional-emotif
Tujuan utama dari Konseling Rasional-emotif ialah menunjukan dan menyadarkan klien bahwa cara berpikir yang tidak logis itulah merupakan penyebaba gangguan emosionalnya. Ataun dengan kata lain, konseling rasional emotif ini mertujuan membantu klien membebaskan dirinya dari cara berpikir atau ide-idenya yang tidak logis dan menggantinya dengan cara-cara yang baik.
2.3  proses dan Teknik konseling Rasional-emotif
a.          Fungsi pengumpulan data dalam konseling Rasional-emotif
Alat-alat pengumpulan data yang bersifat testing dan non testing sedikit sekali dipergunakan dalam konseling ini karena diagnosisnya bertujuan untuk membuka ketidak logisan pola berpikir.
b.      Peranan konselor dan langkah-langkah konseling
Peranan konselor dalam proses konseling rasional-emotif akan tampak dengan jelas dalam langkah-langkah konseling sebagai berikut:
a.       Langkah pertama
Dalam langkah pertam kondelor berusaha menunjukan pada klien bahwa masalah yang dihadapinya berkaitan dengan keyakinannya yang tidak rasional
b.      Langkah kedua
Peranan konselor adalah menyadarkan klien bahwa pemecahan masalah yang dihadapinya merupakan tanggung jawab sendiri.
c.       Langkah ketiga
Pada langkah ketiga ini konselor berperan mengajak klien menghilangkan cara berpikir dan gagasan yang tidak rasional.
d.      Langkah keempat
Peranan konselor mengembangkan pandangan-pandangan yang realistis dan menghindaakan diri dari keyakinan yang tidak rasional.



c.       Teknik-teknik konseling Rasional-emotif
Untuk mengatasi masalah tersebut digunakan beberapa teknik konseling rasional-emotif sebagai berikut:
a.       Teknik pengajar
b.      Teknik persuasif
c.       Teknik pemberian tuga
2.4  landasan konseling rasional-emotif
a. pandangan tentang hakikat manusia
beberapa pandangan tentang hakikat manusia yang diajukan oleh Albert Ellis, yang mewarnai teori Rasional-emotif therapy adalah sebagai berikut:
a.       Manusia dipandang sebagai makhluk yang rasional dan juga tidak rasional
b.      Pikiran, perasaan, dan tindakan manusia adalah merupakan suatu proses yang satu dengan yang lainya tidak dapat dipisahkan
c.       Individu bersifat unik dan memilikim potensi untuk memahami keterbatasan, serta potensi mengubah pandangan dasar dalam nilai-nilai yang diterimahnya  secara tidak kritis.
b. konsep-konsep dasar teori  rasional-emotif
konsep dasar teori konseling rasional-emotif ini mengikuti pola yang teliti, didasarkan pada teori A-B-C .
A =  Activating Experence (pengalaman aktif)
B=  Belief system (cara individu menganggap suatu hal)
C=  Emotional Cosequence (akibat emosional)
C.      Pendekatan konseling AnalisiS Transaksional
Prinsip-prinsip yang dikembangkan oleh Eric Berne dalam Analisis transaksional adalah upaya untuk merangsang rasa tanggung jawab pribadi atas tingkah lakunya sendiri, pemikiran logis, rasional, tujuan-tujuan yang realistis, berkomunikasi dengan terbuka, wajar, dan pemahaman dalam berhuubungan dengan orang lain.


3.1  Teori kepribadian
a.       Struktur kepribadian
Menurut Eric Berne bahwa status ego seseorang terdiri dari unsur-unsur sebagai berikut
1.      Orang tua (parent)
2.      Dewasa  (Adult)
3.      Anak (child)
a.       Status ego orang tua
Bila seseorang merasa dan bertingkah laku seperti seperti orang tua atau toko-tokoh terdahulu, maka ia dapatlah berada dalam status ego orang tua. Setiap orang mendapatkan berbagai bentuk pengalaman, sikap, serta pendapat dari orang tuanya, maka dari itu berdasarkan pengalaman, sikap, dan serta pendapat yang diperoleh dari orang tuanya masing-masing.
b.      Status ego dewasa
Status ego dewasa adalah bentuk tindakan seorang yang didasarkan atas dasar pikiran yang rasional, logis, objektif, dan bertanggung jawab.
Dewasa berfungsi untuk mengumpulkan berbagai informasi memasukan berbagai bentuk kemungkinan yanag ada.
c.       Status ego anak
Status ego anak adalah suatu tindakan dari seseorang yang didasarkan pada reaksi emosional spontan, reaktif, humor, kreatif, serta inisiatif.
masa anak-anak yaitu: adanya ketergantungan pada orang lain, spontan, bebas, tidak mau kompromi atau impulsif serta agresif.
b.      Stroke
Dalam Teorinya Eric Berne mengemukakan suatu istilah yang disebut “ sroke” kalau diterjemahkan bisa disebut dengan “ Tanda perhatian” .
Menurut Eric Berne stroke dibedakan menjadi :
a.       Stroke positif  (positive stroke)
b.      Stroke negatif  ( negative sroke)
c.       Stroke bersyarat  (ncoditional stroke)
d.      Stroke tidak bersyarat (uncoditional stroke)

c.       Struktur Hunger
Eric Berne berpendapat bahwa kebutuhan seseorang untuk mengadakan serangkaian transaksi dengan individu yang lainya adalah bersumber pada suatu stimulus atau sensation hunger.
Setiap orang ingin mendapatkan kontak, baik fisik maupun psikis dengan orang lain dan setiap orang ingin untuk menggunakan waktunya sebaik-baik sepanjang hidupnya.
Dalam analisis transaksional dari Eric Berne mengemukakan enam cara penggunaan waktu, diantaranya adalah:

1.      With drawal
2.      Rituals
3.      Pastimes
4.      Aktivitas
5.      Games
6.      Intimacy
3.2  Posisi dasar yang menetukan kehidupan
Thomas A. Harris, menyebutkan adanya empat posisi yang menetukan kehidupan seseorang diantaranya adalah :

·  Posisi pertama :  I’m not ok- you’re ok
·  Posisi kedua     : I’m not ok you’re not ok
·  Posisi ketiga     :  I’m ok- you’re not ok
·  Posisi jeempat : I’m ok-you’re ok
3.3  macam-macamtipe transaksi
dalam analisis transaksional, ada tiga macam tipe transaksi diantaranya “
1.      complementery (komplementer=senada)
2.      crossed (silang)
3.      ulterior (terselubung)
3.4  konseling Analisis Transaksional
a.       tujuan konseling analisis transaksional
tujuan pertama: konselor membantu klien yang mengalami kontaminasi (pencemaran) status ego yang berlebihan.
Tujuan kedua    : konselor berusaha membantu menegembangkan kapasitas dari klien dalam menggunakan semua status egonya yang cocok.
Tujuan ketiga    : konselor berusaha membantu klien dalam mengembangkan seluruh status ego dewasanya.
Tujuan keempat : konseling membantu klien dalam membebaskan dirirnya dari posisi hidup yang kurang cocok serta menggantikanya dengan rencana hidup yang baru atau naskah hidup (life script) yang lebih produk.
b.      Proses dan teknik konseling analisis transaksional
Dalam konseling yang mengunakan pendekatan analisis transaksional digunakan teknik tertentu. Teknik yang di pergunakan terdiri dari empat tahap  yaitu:
1.      Analisis struktur ( structural analysis)
2.      Analisis transaksional    
3.      Analisis mainan (game analysis)
4.      Analisis naskah (script analysis)
c.       Karakteristik pendekatan konseling analisis transaksional
Konselor analisis transaksional adalah individu yang lebih banyak berperan sebagai fasilator dalam proses kelompok dan juga sebagai pemimpin yang memiliki keahlian dalam menganalisis status ego, transaksi permainan, dan naskah hidup (life script).
Eric Berne menyatakan dua kebutuhan tambahan yang harus dimiliki oleh seorang konselor analisis transaksional yaitu:
1.      Konselor harus memiliki kemamapuan untuk mengenal darimana memulai untuk mengungkapakan ketiga kasus ego dari klien.
2.      Kenselor harus dapat memperlihatkan kemurnian dari komitmen pada klien, menunjukan kepercayaan atas kemampuan dalam membantu mengatasi kesulitan-kesulitan yang dihadapi oleh klien.



D .  Pendekatan Konseling Klinikal
4.1  Landasan Teoritis konseling klinikal
a.       Latar belakang timbulnya
Secara konseptual konseling klinikal sebenarnya telah mulai dirirntis oleh Donal G paterson pada tahun 1920. konselingn klinikal berkembang diawal dari konsep konseling jabatan ( vocational counseling).
 Konseling jabatan yang pertama-tama dirintis dan diperkenalkan oleh frank parson (1909) yang menekankan pada tiga aspek penting yaitu:
1.      Pemahaman yang jelas tentang potensi-potensi yang dimiliki individu termasuk didalamnya ialah tentang bakat, minat, kecakapan, kekuatan-kekuatan, maupun kelemahan-kelemahannya.
2.      Pengetahuan tentang syarat, kondisi, kesempatan, dan tentang prospek dari berbagai jenis pekerjaan atau jabatan atau karier.
3.      Peneyesuaian yang tepat anatara kedua aspek tersebut.
b.      Pandanagan konseling klinikal tentang hakikat manusia.
Pendekatan konseling klinikal yang dikemukakan oleh Williamson adalah bentuk pendekatan yang logis dan Rasional itu tidak beroriebtasi pada intelektuallisme, tetapi berorientasi secara keseluruhan.
Tujuan konseling bukanlah semata-mata menegembangkan kemampuan intelektual, tetapi juga memebantu klien dalam meningkatkan kematangan sosial dan emosionalnya sesuaidengan potensi yang dimilikinya.
Berdasarkan uraian diatas secara terperinci pandangan tentang hakikat manusia dalam konseling klinikal adalah diuraikan sebagai berikut:
a.       Pada hakikatnya manusia berusaha untuk menjadikan dirinya sendiri.
b.      Manusia secara potensi memiliki kecenderungan yang negatif.
c.       Hakikat dari kehidupan yang baik dan kesempurnaan pribadi adalah dengan cara mengembangkan diri yang dilandasi penuh rasa kasih sayang.
d.      Manusia haruslah berusaha untuk menemukan dirinya sendiri.
e.       Manusia haruslah berusaha untuk menciptakan hubungan baik antara dirinya dan lingkungannya.
f.        Kepribadian seseorang merupakan suatu bentuk kesatuan dari berbagai potensi yang melahirkan tingkah laku yang teratur dan terarah.
g.       Manusia memiliki kepribadian yang unik.
h.       Manusia mencapai kesempurnaan diri yang bersumber pada perbedaan pola kecakapan dan potensi yang dimilikinya.
c.       Asumsi dasar konseling klinikal
Hubungan konseling klinikal antara lain dilandasi oleh bebrapa asumsi dasar sebagai berikut:
a.       Walaupun konseling itu bertujuan untuk membantu individu (klien) mencapai tingkat perkembangan yang optimal tetapi kehidupan sosial individu dengan segala hambatan dan kekurangan dalam mencapai tujuan tidaklah diabaikan.
b.      Konseling bukan  saja menghargai keunikan atau ke khasan individu, tetapi  juga mengakui akan adanya ketergantungan individu ya ng satu terhadapaindividu yang satu dengan yang lain.
c.       Konseling menganggap kesukarelaan dari individu untuk menerimah konseling adalah penting.
d.      Konseling itu diperlukan oleh klien jika klien menghadapi suatu masalah yang tidak dapat diatasi atau tidak dipecahkan sendiri.
e.       Hubungan konseling adalah bersifat netralterhadap niali dan norma.
f.        Tujuan utama dari konseling adalah membantu individu untuk dapat memahami dirinya secra rasioanal.

d.      Tujuan konseling klinikal
Tujuan pelaksanaan layanan konseling klinikal dapat diuraikan sebagai berikut:
a.       Klien (siswa) yang perlu mendapat bantuan adalah siswa yang yang menghadapi masalah yang tudak dapat memecahkan masalahnya sendiri.
b.      Karena pada dasarnya konseling klinikal merupakan suatu proses personalisasi dan individualisme, maka tujuan  dari konseling adalah untuk membantu siswa mempelajari, memahami, dan menghayati dirinya sendiri serta lingkungannya (proses individualisme), serta melancarkan terjadinya proses pengembangan diri, pemahaman diri, perwujudan cita-cita, dan penemuan identitas diri (proses personalisasi) .
e.       Langkah-langkah konseling klinkal

a.       Analisis
b.      Sintesis
c.       Diagnosis
d.      Prognosis
e.       Konseling atau  treatmen
f.        Tindak lanjut
4.2  Alat pengumpulan data dalam konseling klinikal
a.       Teknik observasi
·  Pengertian observasi
·  Fungsi observasi dalam konseling
·  Jenis-jenis teknik observasi
·  Beberapa alat pembantu observasi
b.      Teknik komunikasi
Teknik komunikasi adalah kegiatan manusia berhubungan satu sama lain yang demikian otomatis. Sehingga sering terlupakan bahwa keterampilan berkomunikasi adalah hasil belajar manusia. Keinginan untuk berhubungan satu sama lain adalah disebabkan pada hakikatnya naluri manusia itu selalu ingin hidup berkawan atau berkelompok.
Istilah komunikasi beraunber dari perkataan latin yaitu “ communicare” yang berarti “memberitahukan” “berpartisipasi” menjadikan milik bersama.
Apabila dirumuskan secara luas, maka komunikasi mengandung pengertian-pengertian “memberitahukan dan menyebarkan informasi, berita, pesan, pengetahuan, pikiran-pikiran, nilai –nilai, dengan tujuan untuk  menggugah partisipasi agar hal-hal yang diberitahukan itu menjadi milik bersama.

c.       Teknik dokumentasi
Studi dokumentasi merupakan salah satu cara pwngumoulan data dengan menggunakan dokumen-dokumen sebagai data.
Cara pengumpulan data dengan menggunakan dokumentasi sebagai sumber data berkaitan dengan prases hubungan konseling klinikal disisni dapat berupa :
a.       Buku rapor
b.      Buku induk murid
c.       Catatan kesehatan siswa
d.      Rekaman
d.      Penggunaan alat-alat pengumpul data dalam konseling klinikal
Hal-hal yang diperhatikan seorang konselor atau pembimbing dalam menggunakan alat-alat pengunpul data adalah :
1.      Setiap alat pengumpulan data yang direncanakan untuk digunakan dalam hubungan konseling, klinikal haruslah diketahui dengan saksama tentang manfaatnya, keterbatasanya, hubungan dengan alat-alat tersebut dengan tujuan yang ingin dicapai.
2.      Penggunaan alat-alat pengumpul data akan memperoleh hasil yang memadukan dengan tujuan yang ingin dicapai.
3.      Berbagai contoh alat-alat pengumpul data yang ada dalam buku, acuan-acuan, literatur, buku kurikulum dapat disempurnakan atau dipakai sesuai dengan keperluan masing-masing pembimbing atau sekolah
4.      Alat-alat pengumpul data yang ada dan akan dipergunakan hendaknya diusahakan ada petunjuk pemakaiannya atau manualnya.
5.      Konselor atau pembimbing hendaknya berusaha kreatif untuk mengembangkan, melengkapi, dan mendapatkan alat-alat data yang belum dimilikinya.
4.3  Ilustrasi kegiatan identifikasi siswa yang menghadapi masalah dalam konseling klinikal
Konseling atau konselor akan menangani kasus dengan pendekatan konseling klinikal. Dengan konseling klinuikal inilah konselor atau pembimbing sekolah menangani kasus,
Dengan langkah-langkah sebagai berikut:
a.       Langkah diagnosis
b.       Langkah treatmen atau penyembuhan
c.       Langkah tindak lanjut







BAB III
PENUTUP
A.   KESIMPULAN
Manusia pada dasarnya ditentukan oleh energi psikis fdan pengalaman-pengalaman dini. motif dan konflik tak sadar adalah sentral dalam tingkah laku sekarang. adapun perkembangan dini penting karena masalah-masalah kepribadian berakar pada konflik-konflik masa kanak-kanak yang direpresi.
Konseling atau konselor akan menangani kasus dengan pendekatan konseling klinikal. Dengan konseling klinuikal inilah konselor atau pembimbing sekolah menangani kasus.
B.       SARAN
Dalam pembuatan makalah ini terima kasih kepada Tuhan Yang Maha Esa. Kepada rekan mahasiswa yang telah membantu dalam pembuatan makalah ini. Kepada dosen pembimbing yang memberikan arahan yang telah tercapai makalah ini. Dan semoga makalah ini dapat digunakan sebaik-baiknya serta menjadi bahan bacaan serta sebuah acuan referensi bagi mahasiswa.



0 Responses

Poskan Komentar